Terlaris Dibaca

Rabu, 09 Desember 2015

Pidato Presiden Soekarno Pada Konferensi Asia Afrika Di Bandung 17 - 24 April 1955 (Bagian 1)


 Yang Terhormat, Bapak, ibu,dan Saudara - Saudari Sekalian,

Ini adalah kehormatan besar bagi dan keistimewaan bagi saya dalam hari bersejarah ini untuk mengucapkan Selamat Datang di Indonesia. Atas nama Rakyat dan Pemerintah Indonesia -- tuan rumah anda -- saya mengharapkan pengertian dan kesabaran anda jika kondisi negara kami tidak memenuhi ekspektasi anda. Kami pastikan bahwa kami telah melakukan yang terbaik untuk membuat jamuan yang berkesan baik untuk tamu dan tuan rumah. Kami berharap bahwa kehangatan sambutan yang kami berikan bisa menutupi kekurangan yang ada.

Saat saya memperhatikan aula dan hadirin yang berada di sini, hati saya menjadi sangat emosional. Inilah konferensi intercontinental orang kulit berwarna dalam sejarah umat manusia. Saya bangga bahwa negara saya bisa menjadi tuan rumahnya. Saya bahagia karena anda menerima undangan yang diadakan oleh lima negara sponsor. Namun saya juga tak mampu menahan kesedihan saat saya teringat akan kesengsaraan yang telah dilalui oleh rakyat kita. Kesengsaraan yang telah meminta banyak korban , baik dalam hal material maupun spiritual.

Saya menyadari bahwa kita berkumpul disini sebagai hasil dari pengorbanan. Pengorbanan yang dilakukan oleh nenek moyang kita dan oleh rakyat serta generasi muda. Bagi saya, aula ini tidak hanya diisi oleh para pemimpin  - pemimpin Negara Asia Afrika; tapi ruangan ini juga diisi oleh  arwah - arwah yang telah mendahului kita, yang abadi, yang gigih, dan tak kasat mata yang telah pergi mendahului kita. Perjuangan dan pengorbanan mereka mengukir jalan bagi pertemuan perwakilan tertinggi dari negara merdeka dan berdaulat dari dua benua terbesar di dunia.

Ini adalah sebuah permulaan dalam sejarah dunia bahwa Para Pemimpin dari Rakyat Asia dan Afrika misa bertemu bersama dinegaranya sendiri untuk berdiskusi dan berunding terhadap persoalan yang menjadi keprihatinan bersama. Baru beberapa dekade lalu munculnya kesadaran untuk bepergian ke negara lain dan bahkan ke benua lain sebelum para pembicara dari rakyat kita bisa memenuhinya.

Saya ingat (pertemuan saat ini) dalam hubungannya dengan konferensi "Liga Anti Imperialisme dan Kolonialisme" yang diadakan di Brusel sekitar 30 tahun lalu. Pada pertemuan itu banyak delegasi - delegasi hebat yang datang pada hari ini untuk saling bertemu dan menemukan kekuatan baru dalam pertarungan mereka untuk kemerdekaan.

Tapi pertemuan itu diadakan di tempat yang berjarak ribuan mil dari sini, di tengah - tengah orang asing, di negara asing, di benua asing. Pertemuan itu tidak diadakan berdasarkan pilihan, namun keperluan.

Saat ini perbedaannya sangat kontras. Negara dan bangsa kita tidak lagi dijajah. Saat ini kita bebas, berdaulat dan merdeka. Saat ini kita sudah menjadi tuan di rumah sendiri. Kita tidak perlu pergi ke benua lain untuk bertemu.

 Sudah ada berbagai pertemuan penting di Negara - Negara Asia itu sendiri.

Jika kita mencari pendahulu dari pertemuan besar kita ini, kita harus melihat ke Colombo, ibu kota Sri Langka yang merdeka, Konferensi Lima Menteri yang diadakan disana pada tahun 1954. Juga Konferensi Bogor pada Desember 1954 yang menunjukkan jalan yang terang ke depan untuk Solidaritas Asia Afrika, dan konferensi yang saya mendapat kehormatan dalam menyambut anda adalah realisasi terhadap solidaritas tersebut.

Tentunya saya bangga bahwa negara saya lah yang menjadi tuan rumahnya.

But my thoughts are not wholly of the honour which is Indonesia’s today. No. My mind is for a part darkened by other considerations.  Tapi pemikiran saya bukan hanya untuk kehormatan Indonesia saat ini saja. tidak. Pikiran saya adalah untuk bagian yang digelapkan oleh kepentingan lain.

Anda belum pernah berkumpul bersama dalam kedamaian, kesatuan, dan kerjasama dunia. Jurang perbedaan terbuka lebar antar bangsa - bangsa dan suku - suku. Dunia kita yang tidak bahagia tercabik - cabik dan tersiksa. Orang - orang dari seluruh negeri jangan berjalan dalam ketakutan meskipun mereka tak bersalah.  Anjing - anjing perang terlepas sekali lagi.

Dan terlepas dari apa yang mreka lakukan, hal ini harus terjadi. lalu bagaimana? Bagaimana dengan negara kita yang baru merdeka? bagaimana dengan anak - anak dan orang tua kita?

Beban para delegasi konferensi ini tidaklah ringan , karena saya tahu pertanyaan - pertanyaan ini -- yang merupakan pertanyaan - pertanyaan mengenai kehidupan atau kematian itu sendiri -- pasti ada dalam pikiran kita, seperti halnya dalam pikiran saya. Dan Negara - Negara Asia dan Afrika tidak bisa, meskipun mereka mau, menghindari tugas mereka dalam menemukan solusi terhadap permasalahan tersebut.

Karena itulah tugas kemerdekaan itu sendiri. Itulah harga yang harus kita bayar untuk kemerdekaan kita. Untuk beberapa generasi rakyat kita telah menjadi suara yang bungkam di dunia. Kita menjadi orang yang tak dianggap, orang - orang yang nasibnya ditentukan oleh orang lain yang punya kepentingan besar, mereka hidup dalam kemiskinan dan kehinaan. Lalu negara kita meminta, bahkan melawan untuk kemerdekaan sampai akhirnya meraih kemerdekaan dan dengan kemerdekaan mendatangkan tanggung jawab. Kita punya tanggung jawab terhadap diri kita sendiri, dan kepada dunia, dan juga kepada generasi yang belum lahir. Tapi kita tak menyesalinya.

Pada tahun 1945, tahun pertama dari revolusi nasional kami, kami dari Indonesia berkonfrontasi dengan pertanyaan mengenai apa yang akan kami lakukan ketika kemerdekaan dapat kami capai dan amankan. Kami tahu bagaimana caranya melawan dan menghancurkan. Lalu kamipun tiba - tiba berkonfrontasi dengan pentingnya mengisi dan memberi makna kepada kemerdekaan kami.  Bukan hanya isi dan makna material saja, tetapi juga isi etika dan moral. Karena kemerdekaan tanpa etika dan moralitas merupakan yiruan yang buruk terhadap apa yang kita  cari. Tanggung jawab dan beban  , hak dan kewajiban serta hak istimewa kemerdekaan harus dilihat sebagai bagian dari isi etika dan moral dari kemerdekaan.

Tentunya, kami menyambut perubahan yang menempatkan beban baru diatas pundak kita dan kita semua memutuskan semua keberanian dan kekuatan kita dalam membawa beban ini.

Saudara - saudara sekalian, betapa dinamisnya dan menakutkannya masa kita ini! Saya ingat beberapa tahun lalu, saya melakukan analisis publik mengenai kolonialisme, dan saya tertarik pada sapa yang disebut "Garis Hidup Imperialisme". Garis ini berjalan dari Selat Gibraltar, melalui Mediterania, Terusan Suez, Laut Merah, Samudera Hindia, Laut Cina Selatan, dan Laut Jepang. Kebanyakan dari tempat - tempat tersebut, , teritori di kedua sisi dari "Garis Hidup" ini adalah negera - negara jajahan. Rakyatnya tidak bebas, masa depan mereka dipertaruhkan kepada sistem alien. Di Sepanjang "Garis Hidup" itu, ada pembuluh utama imperialisme, yang memompa darah kehidupan bagi kolonialisme.

Dan saat ini di di dalam aula, berkumpullah para pemimpin dari orang - orang yang sama. Mereka tidak lagi korban dari kolonialisme. Mereka tidak lagi alat bagi orang lain serta permainan para tentara yang tidak bisa mereka kendalikan. Saat ini anda mewakili orang - orang bebas, orang - orang dari status dan kedudukan berbeda di dunia.

Telah terjadi  "Sturm über Asien'" (Badai Di atas Asia) -- juga diatas Afrika. Beberapa tahun terakhir telah terlihat perubahan besar.Negara, bangsa, telah terjaga telah terjaga dari tidur selama berabad - abad. Orang - orang pasif telah pergi. Ketenangan telah ada untuk perjuangan dan aktivitas. Tentara yang perkasa telah menyapu dua benua. Wajah mental, spiritual, dan politik dunia telah berubah dan prosesnya belum lah lengkap. Ada kondisi baru, konsep baru, masalah baru, dan cita - cita baru yang membentang di seluruh dunia. Badai kebangkitan dan kebangkitan kembali bangsa telah menyapu daratan. Menggoncang, menggantikannya, menggantikannya untuk hal yang lebih baik.

Abad kedua puluh ini adalah sebuah periode dinamisasi yang luar biasa. Mungkin 50 tahun terakhir ini terakhir ini kita telah melihat lebih banyak pembangunan dan kemajuan material dibandingkan 500 tahun sebelumnya. Manusia telah mempelajari cara untuk mengendalikan bencana yang awalnya mengancamnya. Dia telah belajar bagaimana caranya memakan jarak.Dia telah belajar bagaimana memproyeksikan suara dan gambarnya  melintasi samudera dan benua. Mereka telah menggali ke dalam rahasia alam dan belajar bagaimana membuat padang pasir bisa ditumbuhi bunga dan tanaman bumi yang menambah keberkahannya. Dia telah belajar bagaimana mengeluarkan kekuatan dahsyat yang terkunci dalam partikel materi terkecil.

Tapi sudahkah keahlian politik seorang manusia berjalan seiring dengan keahlian teknis dan ilmiahnya?   Seseorang bisa merangkai petir pada perintahnya -- bisakah dia mengendalikan masyarakat tempat dia hidup? Jawabannya adalah Tidak! Keahlian politik seseorang jauh dibawah keahlian teknis, dan apa yang telah dia buat belum tentu bisa dikendalikannya.

Hasil dari (keahlian) ini adalah ketakutan. Dan seseorang kesulitan untuk mencapai keamanan dan moralitas.

Mungkin saat ini masyarakat, pemerintah, dan kenegarawanan harus didasarkan pada aturan tertinggi dalam moralitas dan etika dalam porsi yang jauh lebih besar dibandingkan saat - saat lainnya dalam sejarah dunia. Dan dalam bidang politik,  apakah aturan tertinggi dalam moralitas itu? Yaitu bahwa segala yang dilakukan haruslah ditujukan untuk kebaikan umat manusia. Tapi saat ini kita menghadapi situasi dimana kebaikan umat manusia tidak selalu menjadi pertimbangan utama. Banyak orang - orang yang berada pada kekuasaan tertinggi cenderung berpikir untuk mengendalikan dunia.

 Ya, kita hidup pada dunia ketakutan. Hidup seorang manusia saat ini telah berkorosi dan diperpahit oleh ketakutan. Ketakutan akan masa depan, ketakutan akan bom hidrogen, ketakutan akan ideologi. Mungkin ketakutan ini adalah bahaya yang lebih besar dibandingkan bahaya itu sendiri, karena ketakutan lah yang membuat manusia bertindak bodoh, bertindak tanpa petimbangan, bertindak dengan berbahaya.

Dalam perundingan ini, Saudara Saudari, saya memohon untuk tidak  berpanduan pada rasa takut karena ketakutan adalah asam yang membentuk tindakan manusia pada pola yang sulit dimengerti. Berpanduan lah pada harapan dan kebulatan tekad, berpanduanlah pada cita - cita, dan ya berpanduanlah pada impian!

 Kita adalah bagian dari negara - negara yang berbeda, kita adalah bagian dari latar belakang sosial dan pola budaya yang berbeda. Jalan hidup kita berbeda. Jenis ras kita berbeda, dan bahkan warna kulit kita berbeda. Tapi apakah itu penting? Manusia bersatu atau terpecah oleh pertimbangan lain. Konflik terjadi bukan karena perbedaan warna kulit ataupun perbedaan agama melainkan dari perbedaan keinginan.

Saya yakin kita semua bersatu oleh lebih banyak hal penting daripada hal-hal superfisial yang memisahkan kita. Kita  semua bersatu dari kebencian bersama terhadap kolonialisme dalam bentuk apapun yang muncul.Kita disatukan oleh kebencian bersama terhadap rasialisme, kita disatukan oleh kebulatan tekad untuk menjaga dan menstabilkan perdamaian di dunia. Bukankah tujuan - tujuan itu disebutkan dalam surat undangan yang anda tanggapi?

Saya terang - terangan mengakui bahwa  saya tidak  tertarik atau didorong semata - mata oleh motif pribadi.

Bagaimana mungkin untuk tidak berkepentingan terhadap kolonialisme? bagi kami, kolonialisme bukanlah sesuatu yang jauh dan berjarak. Kami telah mengenal semua kekejamannya. Kami telah melihat pemborosan besar yang ditimbulkannya, kemiskinan yang ditimbulkannya, dan warisan yang ditinggalkan dibelakangnya ketika didorong oleh perjalanan sejarah yang tak dapat dicegah.  Rakyat - rakyat saya dan rakyat - rakyat banyak negara Asia dan Afrika pun mengetahuinya karena kita telah mengalaminya.

Tentunya  kita belum bisa mengatakan bahwa semua bagian dari negara kita sudah benar - benar bebas. Beberapa bagian masih di pekerjakan dibawah ancaman cambuk. Dan beberapa bagian Asia dan Afrika yang tidak terwakili disini masih menderita pada kondisi yang sama.

 Ya, beberapa bagian negara belum bebas. Karena itulah kita semua belum bisa merasakan bahwa tujuan dari perjalann sudah tercapai.Tidak ada yang merasa dirinya bebas, saat sebagian lain dari tanah airnya belum bebas.  Seperti kedamaian, kemerdekaan itu tak dapat dipisahkan. Tidak ada yang namanya setengah bebas, seperti halnya tidak ada yang namanya setengah hidup.

Kita seringkali mendengar "Kolonialisme sudah mati". Jangan sampai tertipu ataupun lengah dengan ucapan tersebut. Saya katakan, kolonialisme belum mati. Bagaimana bisa kita katakan telah mati, saat banyak wilayah di Asia dan Afrika belum bebas.


Lihat Bagian 2 Disini
Lihat Bagian 3 Disini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar