\
Lihat Bagian 1 Disini
Lihat Bagian 3 Disini
Dan saya memohon tidak hanya memikirkan kolonialisme hanya dalam bentuk klasik saja seperti yang diketahui oleh kami dari Indonesia dan juga saudara - saudara kita dari belahan dunia lain di Asia dan Afrika. Kolonialisme juga punya pakaian modernnya, dalam bentuk pengendalian ekonomi, pengendalian intelektual, pengendalian fisik aktual oleh sebagian kecil masyarakat asing dalam suatu negara. Ia adalah musuh yang ahli dan tangguh, dan tampil dalam banyak bentuk. Ia tidak dengan mudah menyerahkan jarahannya. Dimanapun, kapanpun, dan bagaimanapun ia muncul, kolonialisme adalah makhluk jahat, dan salah satu hal yang harus dihapuskan dari muka bumi.
Perang melawan kolonialisme telah berjalan lama, dan tahukah anda bahwa hari ini adalah ulang tahun terkenal dari peperangan itu. Pada tanggal 18 April, seribu tujuh ratus tujuh puluh lima. baru seratus delapan puluh tahun yang lalu, Paul revere melakukan perjalannan pada tengah malam melalui jalan pedesaan New England, memberi peringatan bahwa Tentara Inggris sudah mendekat dan pada permulaan Perang Kemerdekaan Amerika, perang anti-kolonial pertama yang berhasil dalam sejarah. Mengenai perjalanan malam hari, penyair Langfellow menulis :
Sebuah Pekikan terhadap tantangan dan bukan ketakutan,
Sebuah suara dalam kegelapan, sebuah ketukan di pintu,
Dan sebuah suara yang menggema untuk selama - lamanya.
Ya, dia akan bergema untuk selama - lamanya, seperti halnya kata - kata anti-kolonial yang memberikan kenyamanan dan ketentraman selama hari - hari tergelap dari perjuangan kita yang akan menggema untuk selama-lamanya. Tapi ingatlah, perang itu yang dimulai 180 tahun yang lalu belum seluruhnya dimenangkan dan tidak akan pernah dimenangkan sampai kita bisa melihat -lihat dunia kita sendiri dan bisa mengatakan bahwa kolonialisme sudah mati.
Jadi, saya berkepentingan ketika berbicara mengenai kolonialisme.
Saya juga berkepentingan ketika berbicara perang untuk kedamaian. Bagaimana mungkin kita tak berkepentingan mengenai kedamaian?
Beberapa waktu yang lalu kita berargumen bahwa kedamaian itu penting bagi kita karena pecahnya pertempuran dibagian dunia kita akan membahayakan kemerdekaan kita yang bernilai, yang baru - baru ini kita menangkan dengan harga mahal.
Saat ini, gambarannya menjadi lebih hitam. Perang tidak hanya ancaman terhadap kemerdekaan kita, tapi juga berarti akhir dari peradaban bahkan kehidupan manusia. Ada ancaman halus didunia yang potensinya untuk kejahatan tidak benar - benar diketahui oleh orang lain. Bahkan dalam praktik dan latihan untuk perang efeknya bisa jadi terbentuk dari sesuatu kengerian yang tidak dikenal.
Beberapa waktu lalu gagasan tentang perang masih memberikan sedikit melegakan, jika ide itu muncul, mungkin bisa didiamkan dengan apa yang disebut "senjata konvensional" - bom, tank, meriam dan manusia. Saat ini rasa lega itu disangkal karena sudah jelas bahwa senjata yang sangat menerikan tentunya akan digunakan dan rencana militer suatu bangsa dalam basis seperti itu. Sesuatu yang non-konvensional menjadi konvensional, dan siapa yang tahu bahwa apa yang orang lain contohkan disalahgunakan dan kemampuan ilmiah yang kejam telah ditemukan sebagai wabah pada kemanusiaan.
Jangan berharap bahwa samudera dan laut akan melindungi kita. Makanan yang kita makan, air yang kita minum, ya, bahkan udara yang kita hirup bahkan terkontaminasi oleh racun yang berasal dari jarak ribuan mil.Dan bisa jadi, meskipun kita melarikan diri, generasi anak - anak kita yang belum lahir akan terlahir dengan tubuh yang terdistorsi yang menandai kegagalan kita dalam mengendalikan serangan yang diluncurkan di dunia.
Tak ada tugas yang lebih penting dibanding menjaga perdamaian. Tanpa perdamaian kemerdekaan kita tidak berarti banyak. rehabilitasi dan pembangunan negara kita tidak akan mempunyai banyak makna. Revolusi kita akan bisa menjalan kan perannya.
Apa yang bisa kita lakukan? Orang - orang Asia dan Afrika menggunakan sedikit kekuatan fisik. Bahka kekuatan ekonomi mereka sedikit dan tercerai berai. Kita tidak bisa mengandalkan kekuatan politik. Diplomasi bagi kami bukanlah masalah tongkat besar. Negarawan kita, kecil dan besar, tidak dilindungi oleh seperangkat jet pengebom.
Apa yang bisa kita lakukan? Banyak! Kita bisa menyuntikkan suara akal budi dalam urusan dunia. Kita bisa memobilisasi seluruh kekuatan spiritual, moral, semua kekuatan politik Asia Afrika pada sisi perdamaian.
Ya, kita! Rakyat Asia dan Afrika, sebanyan 1,4 Milyar, jauh lebih dari setengah populasi dunia, kita bisa memobilisasi apa yang disebut kekerasan moral bangsa dalam membantu perdamaian. Kita bisa mendemonstrasikan minoritas dunia yang hidup di negara lain dibenua lain yang kita, menjadi minoritas, adalah untuk perdamaian, bukan untuk perang, dan bahwa apapun kekuatan yang kita punya akan selalu diberikan kepada pihak damai.
Dalam perjuangan ini, beberapa keberhasilan sudah mulai tampak. saya pikir aktivitas perdana menteri negara sponsor yang membawa anda kesini secara, yang umum diakui, tidak mempunyai peran yang tak penting dalam memainkan akhir dari perang di Indo - China.
Lihatlah Rakyat Asia meninggikan suaranya, dan dunia pun mendengarkan. Ini bukanlah kemenangan kecil dan bukan preseden sepele! Kelima perdana menteri tidak mengeluarkan ancaman, tidak mengeluarkan ultimatum,tidak memobilisasi pasukan. Melainkan mereka berkonsultasi bersama, mendiskusikan isu - isu , mengerucutkan ide mereka, ikut menambahkan skill politik individual serta tampil ke depan dengan suara dan usul yang masuk akal yang membentuk basis untuk penyelesaian dari perjuangan panjang di Indo-China.
Saya seringkali sejak saat itu bertanya pada diri sendiri mengapa mereka berlima bisa berhasil ketika yang lainnya, dengan rekor diplomasi yang panjang tidak berhasil dan malahan membuat situasi yang buruk menjadi lebih parah sehingga timbul bahaya penyebaran konflik. Apakah karena mereka Asia? Mungkin itulah bagian dari jawaban, karena lautan api sudah ada di depan pintu mereka, dan dampaknya akan meluas akan mendatangkan ancaman yang nyata bagi rumah mereka sendiri. Tapi saya pikir jawabannya ada pada fakta bahwa kelima perdana menteri itu membawa pendekatan yang segar untuk mengatasi masalah. Mereka tidak mencari keuntungan untuk negara mereka sendiri. Mereka tidak punya kapak kekuatan politik untuk diasah. Merka hanya punya satu kepentingan yaitu bagaimana mengakhiri peperangan sedemikian rupa sehingga peluang untuk melanjutkan perdamaian dan stabilitas meningkat.
Itulah, saudara saudari, sebuah acara bersejarah. Beberapa negara Asia yang sudah merdeka berbicara, dan dunia pun mendengarkan. Mereka berbicara mengenai kepedulian kepada Asia, dan membuat hal itu menjadi jelas bahwa urusan Asia adalah kepedulian orang Asia itu sendiri.Saat itu sudah lama berlalu saat masa depan Asia bisa ditetapkan oleh orang lain di tempat - tempat yang jauh.
bagaimanapun kita tidak bisa, kita tidak berani, membatasi kepentingan kita terhadap urusan benua kita sendiri. Keadaan dunia saat ini saling tergantung satu sama lain dan tidak ada negara yang bisa menjadi pulau diatas dirinya sendiri. Isolasi yang kuat yang dulunya masih mungkin, sekarang tidak lagi. Urusan seluruh dunia adalah urusan kita juga, dan masa depan kita tergantung pada solusi yang ditemukan mengenai semua masalah internasional, tak peduli betapa jauhnya.
Saat saya memandang aula ini, pikiran saya melayang kepada Konferensi Rakyat Asia lainnya. Pada awal 1949 - baru saja dinyatakan secara historis - negara saya untuk kedua kalinya sejak proklamasi kemerdekaan tsibuk dengan perjuangan hidup dan mati. Negara kami terkepung , banyak wilayah kami yang diduduki, sebagian besar pemimpin kami dipenjara atau diasingkan, eksistensi negara kami terancam.
Masalah pun diputuskan, bukan di ruang konferensi, tapi di medan perang. Utusan - utusan kami adalah senapan, meriam, bom, granat dan bambu runcing. Kami di blokade, secara fisik dan intelektualitas.
Itu adalah masa - masa yang menyedihkan tapi sekaligus masa kejayaan dalam sejarah nasional kita bahwa tetangga kami yang baik, India, mengadakan Konferensi Negara - Negara Asia dan Afrika di New Delhi, untuk memprotes ketidakadilan terhadap Indonesia dan memberikan dukungan terhadap perjuangan kami. Blokade intelektual pun dipatahkan! Para delegasi kami diterbangkan ke New Delhi dan belajar dari tangan pertama mengenai dukungan yang masif yang diberikan kepada perjuangan kami untuk eksistensi nasional. Belum pernah ada dalam sejarah manusia solidaritas ditunjukkan oleh Orang - orang Asia dan Afrika untuk menyelamatkan sesama bangsa Asia yang ada dalam bahaya. Para diplomat dan negarawan, Pers dan orang biasa dari negara - negara tetangga di Asia dan Afrika semuanya mendukung kami. Kami mendapat keberanian baru untuk menekan perjuangan kami sampai kepada penyelesaian akhir yang sukses.Lagi - lagi kami merealisasikan sepenuhnya kebenaran dari pernyataan Desmoulin : "Jangan ragukan hebatnya kekuasaan dari orang yang bebas".
Bersambung ke Bagian 3
Lihat Bagian 1 Disini
Lihat Bagian 3 Disini

Tidak ada komentar:
Posting Komentar